JAKARTA SWISSOTEL.WI.|Kolegium Kedokteran Kelautan turut berpartisipasi dalam kegiatan *The 2nd National Forum of the Indonesian Health Council (FORNAS KKI) 2026* yang diselenggarakan pada 29–31 Oktober 2026.
Forum nasional yang mengusung tema “Strengthening Competence and Professionalism to Enhance Patient Safety and Quality of Care” ini menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan kesehatan untuk memperkuat kompetensi, profesionalisme, tata kelola keprofesian, serta peningkatan mutu dan keselamatan pasien di Indonesia.
Keikutsertaan Kolegium Kedokteran Kelautan dalam forum ini diwujudkan melalui kontribusi akademik berupa *poster presentation* dengan judul **“Hyperbaric Oxygen Therapy in Critically Ill Patients: A Narrative Review with Implications for Service Development in Indonesia”**. Karya ilmiah tersebut disusun oleh Eustachius Hagni Wardoyo, ** Kolonel Laut (K) Dr. dr. Hisnindarsyah, Sp.KL, Subsp.KT(K), SE., M.Kes., MH., C.FEM., FIHFAA, FISQua, FRSPH**, dan Nurul Ridha Muttaqin.
Kajian ini membahas penerapan terapi oksigen hiperbarik (*Hyperbaric Oxygen Therapy/HBOT*) pada pasien dengan kondisi kritis serta implikasinya terhadap pengembangan pelayanan kesehatan di Indonesia.
Poster ilmiah tersebut mengangkat isu penting mengenai kelayakan penerapan HBOT pada pasien kritis yang masih membutuhkan dukungan perawatan intensif.
Melalui telaah literatur terhadap 31 publikasi jurnal ilmiah dan enam dokumen regulasi, profesional, serta pelayanan kesehatan, kajian ini menunjukkan bahwa intervensi perawatan intensif dapat tetap dipertahankan selama pelaksanaan HBOT pada kondisi dan fasilitas tertentu. Namun, penerapannya memerlukan kesinambungan pelayanan kritis, pemantauan fisiologis yang memadai, kesiapan peralatan, kompetensi tenaga profesional, serta koordinasi multidisiplin.
Kajian tersebut juga menekankan bahwa pengembangan pelayanan hiperbarik tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas dan teknologi. Diperlukan kerangka pelayanan yang terintegrasi, meliputi standar keselamatan, kompetensi tenaga medis, prosedur klinis, sistem rujukan, serta koordinasi dengan unit perawatan intensif. Dengan demikian, pengembangan layanan HBOT di Indonesia dapat dilaksanakan secara aman, efektif, dan berkelanjutan berdasarkan bukti ilmiah serta kebutuhan pelayanan kesehatan nasional.
Selain berpartisipasi melalui presentasi poster ilmiah, Kolegium Kedokteran Kelautan juga terlibat dalam kegiatan *Focus Group Discussion* (FGD). Forum diskusi ini menjadi sarana pertukaran gagasan dan pandangan profesional mengenai pengembangan kompetensi tenaga medis, pendidikan keprofesian, standar profesi, serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Partisipasi tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi dan sinergi antar-kolegium serta pemangku kepentingan dalam mendukung penguatan sistem kesehatan nasional.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi akademik para penyusun poster, panitia FORNAS KKI 2026 menyelenggarakan penyerahan sertifikat sebagai narasumber kepada para peserta yang telah menghasilkan karya ilmiah. **Kolonel Laut (K) Dr. dr. Hisnindarsyah, Sp.KL, Subsp.KT(K), SE., M.Kes., MH., C.FEM., FIHFAA, FISQua, FRSPH** tercantum sebagai salah satu penerima sertifikat tersebut. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi keilmuan dan partisipasi profesional dalam mendukung pengembangan ilmu kesehatan melalui forum ilmiah nasional. Hadir mewakili narasumber untuk menerima sertifikat adalah Dr.dr.H.Boy Subirosa Sabarguna SpKL., Subsp.PP.K, MARS.
Keikutsertaan Kolegium Kedokteran Kelautan dalam FORNAS KKI ke-2 Tahun 2026 mencerminkan komitmen untuk terus mengembangkan ilmu kedokteran kelautan, meningkatkan kompetensi profesional, serta mendorong penerapan pelayanan kesehatan berbasis bukti ilmiah. Kegiatan ini juga memperkuat peran kolegium dalam pengembangan standar kompetensi, pendidikan profesi, dan inovasi pelayanan kesehatan.
Melalui forum nasional ini, diharapkan kedokteran kelautan semakin berperan dalam mendukung pengembangan sistem pelayanan kesehatan Indonesia, khususnya pada bidang kedokteran hiperbarik. Sinergi antara pengembangan keilmuan, pendidikan, standar kompetensi, dan praktik pelayanan menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, profesional, dan berorientasi pada keselamatan pasien.( HSD/TARI/Koleg)
(Very)












